Senin, 22 Mei 2017

Manajemen Kebidanan Pada BBL Patologi dengan Asfiksia Berat



MANAJEMEN KEBIDANAN PADA BBL PATOLOGI
BBL PEREMPUAN USIA <1 JAM DENGAN ASFIKSIA BERAT
DI BPM HARAPAN MULYA PONOROGO


Dosen Pembimbing     : Ibu Hj.Murniati S.ST M.Kes

 
Disusun Oleh :
1.      Anjelika abuk         (201501003)
2.      Diyah utami          (201501011)
3.      Qoni’atun nuraini  (201501030)
4.      Ratna dwi s           (201501031)





AKADEMI KEBIDANAN HARAPAN MULYA PONOROGO
TAHUN AJARAN 2017/2018

 


LEMBAR PENGESAHAN


Manajemen kebidanan pada bbl perempuan usia <1 jam    dengan asfiksia berat.
Telah diteliti dan disetujui oleh pembimbing pada     :

Hari                 :
Tanggal           :











Mengetahui

Pembimbing Institusi







Hj Murniati S.ST M.Kes













KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat allah SWT yang telah memberikan rahmat-Nya sehingga kami dapat menyusun laporan “ Managemen Kebidanan Pada Bbl perempuan usia <1 jam dengan asfiksia berat”.
            Dalam menyusun laporan ini penulis banyak mendapat bantuan, bimbingan dan saran dari pembimbing akademi Kebidanan Harapan Mulya Ponorogo, Maka kami mengucapkan terima kasih kepada :
1.      Ibu Sumini S.ST M.Si , selaku direktur Akademi Kebidanan Harapan Mulya Ponorogo.
2.      Ibu Hj.Murniati S.ST M.Kes Selaku pembimbing institusi
3.      Teman-teman mahasiswa Akademi Kebidanan Harapan Mulya Ponorogo
Kami menyadari dalam penyusunan laporan ini masih banyak kekurangan oleh karena itu kritik dan saran dari pembaca sangat kami harapkan.
Semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan pembaca pada umumnya

Ponorogo,         April 20167   
       

                                                                                                          Penulis 



DAFTAR ISI
LEMBAR JUDUL..........................................................................................................
LEMBAR PENGESAHAN.............................................................................................
KATA PENGANTAR ....................................................................................................
DAFTAR ISI..................................................................................................................
BAB I     PENDAHULUAN...........................................................................................
BAB II    TINJAUAN TEORI.........................................................................................
1.      Konsep Dasar............................................................................................
2.      Pohon Masalah..........................................................................................
3.      Asuhan Kebidanan....................................................................................
      BAB III   TINJAUAN KHUSUS.....................................................................................
1.      Pengkajian ................................................................................................
2.      Identifikasi Diagnosa Dan Masalah...........................................................
3.      Identifikasi Diagnosa Dan Potensial..........................................................
4.      Menetukan Kebutuhan Yang Memberikan Tindakan Segera Kolaborasi dan
 Konsultasi................................................................................................
5.      Intervensi..................................................................................................
6.      Implementasi.............................................................................................
7.      Evaluasi....................................................................................................
     BAB IV   PEMBAHASAN..............................................................................................
     BAB V    PENUTUP........................................................................................................
     DAFTAR PUSTAKA.......................................................................................................



BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Asfiksia neonatorum adalah keadaan bayi tidak dapat segera bernafas secara spontan dan teratur setelah bayi lahir yang disebabkan oleh hipoksia janin rahim yang berhubungan dengan faktor-faktor timbul dalam kehamilan, persalinan atau segera setelah bayi lahir, keadaan ini merupakan penyebab utama mortalitas dan morbilitas bagi bayi baru lahir.
Insiden asfiksia perinatal di negara maju berkisar antara 1,0 – 1,5% tergantung dari masa gestasi dan berat lahir. Insiden asfiksia pada bayi matur berkisar 0,5% sedang bayi prematur 0,6%. Di Indonesia  prevelen asfiksia berkisar 0,3% kelahiran (1998), atau setiap tahunnya sekitar 144.900 bayi dilahirkan dengan asfiksia berat (Abd. Sukadi dkk).
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa bayi asfiksia berat memiliki dampak yang buruk dan total dalam pertumbuhan dan perkembangan bayi cerebral palsi, retardasi mental IQ rendah dan lain-lain. Walaupun angka prevelensinya rendah sekitar 1,4% dari jumlah kelahiran normal tetapi merupakan penyebab mortalitas dan morbiditas bagi bayi baru lahir

1.2  Tujuan
1.2.1        Tujuan umum
            Mampu meningkatkan pemahaman dan penerapan manajemen kebidanan pada bbl dengan asfiksia berat
1.2.2    Tujuan Khusus
Penulis diharapkan dapat :
1.      Melakukan pengkajian data.
2.      Mengidentifikasi diagnosa dan masalah
3.      Mengantisipasi masalah potensial.
4.      Mengidentifikasi kebutuhan segera.
5.      Merencanakan suatu tindakan yang komperhensif
6.      Melaksanakan tindakan sesuai dengan rencana.
7.      Mengevaluasi pelaksanaan asuhan kebidanan.

1.3  Manfaat
1.3.1   Bagi penulis
     Membantu meningkatkan wawasan dalam menerapan ilmu yang telah di berikan dalam perkuliahan & mengimplementasikannya dalam memberikan pelayanan kesehatan pada masyarakat.
      1.3.2    Bagi Institusi
      Sebagai evaluasi untuk mengetahui kemampuan mahasiswa dalam melakukan asuhan secara komprehensif pada bbl patologis
      1.3.3    Bagi lahan praktek
      Diharapkan dapat dijadikan evaluasi untuk tempat praktek dalam meningkatkan  praktek pelayanan kebidanan dalam memberikan asuhan pada bbl patologis.

1.4  Tempat dan Waktu
1.4.1    Tempat
            BPM Harapan Mulya Ponorogo
1.4.2    Waktu
            Dilaksanakan pada hari Senin 26 Maret 2017


















BAB II
TINJAUAN TEORI


A.    Konsep Dasar

Definisi
Asfiksia neonatorum merupakan suatu keadaan pada bayi baru lahir yang mengalami gagal bernafas secara spontan dan teratur segera setelah lahir, sehingga bayi tidak dapat memasukkan oksigen dan tidak dapat mengeluarkan zat asam arang dari tubuhnya. ( Dewi.2010 )
Asfiksia neonatorum adalah keadaan bayi yang tidak dapat bernafas spontan dan teratur, sehingga dapat menurunkan O2 dan makin meningkatkan CO2 yang menimbulkan akibat buruk dalam kehidupan lebih lanjut (Manuaba, 2010)
Asfiksia adalah keadaan bayi tidak bernafas secara spontan dan teratur segera setelah lahir. Seringkali bayi yang sebelumnya mengalami gawat janin akan mengalami asfiksia setelah persalinan. Masalah ini mungkin saling berkaitan dengan keadaan ibu, tali pusat atau masalah pada bayi selama atau sesudah persalinan.(JNPK KR 2008)

Penyebab terjadinya Asfiksia menurut (DepKes RI,  2009)
1)      Faktor Ibu
a.       Preeklamsia dan eklamsia.
b.      Perdarahan abnormal (plasenta prervia ).
c.       Partus lama atau partus macet.
d.      Demam selama persalinan.
e.       Infeksi berat (malaria, sifilis, TBC, HIV).
f.       Kehamilan post matur.
g.      Usia ibu kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun.


2)      Faktor Bayi
a.       Bayi Prematur (Sebelum 37 minggu kehamilan).
b.      Persalinan sulit (letak sungsang, bayi kembar, distosia bahu, ektraksi vakum,   forsef).
c.       Kelainan kongenital.
d.      Air ketuban bercampur mekonium (warna kehijauan).
3)      Faktor Tali Pusat
a.       Lilitan tali pusat.
b.      Tali pusat pendek.
c.       Simpul tali pusat.
d.      Prolapsus tali pusat.

Diagnosis
Untuk dapat mendiagnosa gawat janin dapat ditetapkan dengan melakukan pemeriksaan sebagai berikut :
1.   Denyut jantung janin
a.       DJJ meningkat 160 kali permenit tingkat permulaan
b.      Mungkin jumlah sama dengan normal, tetapi tidak teratur
c.       Frekuensi denyut menurun <100 kali permenit, apalagi disertai irama yang tidak teratur.
d.      Pengeluaran mekonium pada letak kepala menunjukkan gawat janin, karena terjadi rangsangan nervus X, sehingga peristaltik usus meningkat dan sfingter ani terbuka.
2.      Mekonium dalam air ketuban
                    Pengeluaran mekonium pada letak kepala menunjukkan gawat janin, karena terjadi rangsangan nervus X, sehingga peristaltik usus meningkat dan sfingter ani terbuka (Manuaba, 2010)
3.      Pernapasan
        Awalnya hanya sedikit nafas. Sedikit napas ini dimaksudkan untuk mengembangkan paru, tetapi bila paru mengembang saat kepala masih dijalan lahir, atau bila paru tidak mengembang karena suatu hal, aktivitas singkat ini akan diikuti oleh henti napas komplet. Kejadian ini disebut apnue primer ( drew.2009)
4.      Usia Ibu
        Umur ibu pada waktu hamil sangat berpengaruh pada kesiapan ibu sehingga kualitas sumber daya manusia makin meningkat dan kesiapan untuk menyehatkan generasi penerus dapat terjamin. Kehamilan di usia muda/remaja (dibawah usia 20 tahun) akan mengakibatkan rasa takut terhadap kehamilan dan persalinan, hal ini dikarenakan pada usia tersebut ibu mungkin belum siap untuk mempunyai anak dan alat-alat reproduksi ibu belum siap untuk hamil. Begitu juga kehamilan di usia tua (diatas 35 tahun) akan menimbulkan kecemasan terhadap kehamilan dan persalinannya serta alat-alat reproduksi ibu terlalu tua untuk hamil.
        Umur muda (< 20 tahun) beresiko karena ibu belum siap secara medis (organ reproduksi) maupun secara mental. Hasil penelitian menunjukan bahwa primiparity merupakan faktor resiko yang mempunyai hubungan yang kuat terhadap mortalitas asfiksia, sedangkan umur tua (> 35 tahun), secara fisik ibu mengalami kemunduran untuk menjalani kehamilan. Keadaan tersebut memberikan predisposisi untuk terjadi perdarahan, plasenta previa, rupture uteri, solutio plasenta yang dapat berakhir dengan terjadinya asfiksia bayi baru lahir (Purnamaningrum, 2010).
5.      Paritas
Paritas adalah jumlah persalinan yang telah dilakukan ibu. Paritas 2-3 merupakan paritas paling aman di tinjau dari sudut kematian maternal. Paritas 1 dan paritas lebih dari 4 mempunyai angka kematian maternal yang disebabkan perdarahan pasca persalinan lebih tinggi. Paritas yang rendah (paritas satu), ketidak siapan ibu dalam menghadapi persalinan yang pertama merupakan faktor penyebab ketidak mampuan ibu hamil dalam menangani komplikasi yang terjadi dalam kehamilan, persalinan dan nifas (Winkjosastro, 2007).
Paritas 1 beresiko karena ibu belum siap secara medis (organ reproduksi) maupun secara mental. Hasil penelitian menunjukan bahwa primiparity merupakan faktor resiko yang mempunyai hubungan yang kuat terhadap mortalitas asfiksia, sedangkan paritas di atas 4, secara fisik ibu mengalami kemunduran untuk menjalani kehamilan. Keadaan tersebut memberikan predisposisi untuk terjadi perdarahan, plasenta previa, rupture uteri, solutio plasenta yang dapat berakhir dengan terjadinya asfiksia bayi baru lahir (Purnamaningrum, 2010)
6.      Lama persalinan
Menurut tinjauan teori beberapa keadaan pada ibu dapat menyebabkan aliran darah ibu melalui plasenta berkurang, sehingga aliran oksigen kejanin berkurang yang dapat menyebabkan terjadi asfiksia pada bayi baru lahir yaitu partus lama atau partus macet dan persalinan sulit, seperti letak sungsang, bayi kembar, distosia bahu, ekstraksi vacuum dan vorcep (JNPK-KR, 2008, h. 144)
Pada multigravida tahapannya sama namun waktunya lebih cepat untuk setiap fasenya. Kala 1 selesai apabila pembukaan servik telah lengkap, pada multigravida berlangsung kira-kira 13 jam, sedangkan pada multigravida kira-kira 7 jam. (sulistyawati, esti,2010; h.65)

Tanda dan gejala
1.      Asfiksia berat (nilai APGAR 0-3)
Pada kasus asfiksia berat, bayi akan mengalami asidosis,sehingga memerlukan perbaikan dan resusitasi aktif dengan segera. Tanda dan gejala yang yang muncul pada asfiksiam berat adalah sebagai berikut :
·         Frekuensi jantung kecil, yaitu <40 per menit.
·         Tidak ada usaha napas
·         Tonus otot lemah bahkan hampir tidak ada
·         Bayi tampak pucat bahkan sampai berwarna kelabu
2.      Asfiksia sedang (nilai APGAR 4-6)
Pada asfiksia sedang, tanda gejala yang muncul adalah sebagai berikut:
·         Frekuensi jantung menurun menjadi 60-80 kali permenit
·         Usaha nafas lambat
·         Tonus otot biasanya dalam keadaan baik
·         Bayi masih bereaksi terhadap rangsangan yang diberikan
·         Bayi tampak siannosis
3.      Asfiksia ringan (nilai APGAR 7-8)
Pada asfiksia ringan, tanda dan gejala yang sering muncul adalah sebagai berikut:
·         Bayi tampak sianosis
·         Adanya retraksi sela iga
·         Bayi merintih
·         Adanya pernafasan cuping hidung
·         Bayi kurang aktifitas (Dewi.2010)



Penilaian Apgar Score
SCORE
0
1
2
A     : Apperaence
Warna kulit
Biru –pucat
Tubuh merah
ekstremitas biru
Seluruh tubuh
merah
P      : Pulse
(denyut jantung)
Tidak ada
< 100 x/menit
> 100 x/menit
G     : Grimance
(Refleks)
Tidak ada
Menyeringai
Menangis
A     : Activiy
(tonus otot)
Tidak ada
Gerakan lemah
Gerakan aktif
R     : Respiration
(Pernafasan)
Tidak ada
   Lambat
 tidak teratur
teratur

Tiga point pengkajian klinis
1.      Pernapasan
     Observasi pergerakan dada dan masukan udara dengan cermat. Lakukan auskultasi jika perlu. Kali adanya pola pernapasan abnormal, seperti pergerakan dada asimetris, napas tersenggal, atau mendengur.
     Tentukan apakah pernapsannya adekuat (frekuensi baik dan teratur), tidak adekuat (lambat dan tidak teratur), atau tidak ada sama sekali.
2.      Denyut jantung
     Kaji frekuensi jantung dengan mengauskultasikan denyut aspeks atau merasakan denyutan umbilicus.
     Klasifikasikan menjadi >100 atau <100 kali permenit. Angka ini merupakan titik batas yang mengindikasikan ada atau tidaknya hipoksia yang signifikan. Catatan : bayi dengan frekuensi jantung <60, khususnya bayi tanpa frekuensi jantung, membutuhkan pendekatan yang lebih darurat. Awalnya, curah jantung mungkin tidak mampu mencukupi perfusi arteri koroner, sampai pada akhirnya tidak mampu sama sekali, walaupun dilakukan ventilasi.
3.      Warna
     Kaji bibir dan lidah bayi yang dapat berwarna biru atau merah muda. Sianosis perifer (akrosianosis) merupakan hal yang normal pada beberapa jam pertama bahkan hari. Bayi yang pucat mungkin mengalami syok atau anemia berat. Tentukan apakah bayi bewarna merah mudah, biru atau pucat.
     Ketiga observasi ini dikenal sebagai komponen skor APGAR. Dua komponen lainnya adalah tonus dan respons terhadap rangsangan. (David,dkk.2009)


























B.     Pohon Masalah
POHON MASALAH
 
1490322240.jpg


C.     Manajemen Kebidanan 7 langkah varney

1.      Pengkajian
Adalah pendekatan secara sistematis untuk mengumpulkan data, yaitu data subyektif dan data obyektif
2.      Identifikasi diagnosa dan masalah
Dilakukan identifikasi yang benar terhadap diagnose dari data subyektif dan data obyektif kemudian masalah dan kebutuhan
3.      Identifikasi diagnosa dan masalah potensial
Untuk mengetahui atau menentukan diagnose atau masalah potensial berdasarkan interprestasi data yang benar atas data-data yang telah dikumpulkan
4.      Menentukan kebutuhan segera, kolaborasi dan konsultasi
Untuk mengetahui tindakann segera yang dbutuhkan untuk menangani adanya komplikasi atau penyakit
5.      Intervensi
Untuk menentukan tujuan dan diagnose yang ditentukan kemudian menentukan rencana yng akan dilakukan
6.      Implementasi
Pelaksanaannya sesuai dengan intervensi
7.      Evaluasi
Mengacu pada kriteria hasil


















BAB III
TINJAUAN KASUS

I.                   PENGKAJIAN
Hari/tanggal          : Senin, 26 Maret 2017                        Jam      : 19.02 WIB
Pengkaji                : Kelompok 1
Tempat                  : BPM Harapan Mulya Ponorogo
No.reg                   : 20170001

A.    Data Subyektif

1.      Biodata
1).  Identitas Bayi
                    Nama                   : By Ny “S”
                    Umur                   : <1 jam
                    Jenis kelamin       : Perempuan
                    Anak ke               : I
                   
                  2).  Identitas Orang tua
                    Nama ibu                   : Ny “S”                      Nama ayah    :       Tn “A”
                    Umur                          : 24 tahun                    Umur             :       25 tahun
                    Agama                       : Islam                         Agama           :       Islam
                    Suku/bangsa               : Jawa/Indonesia         Suku/bangsa  :       Jawa/Indonesia
                    Pendidikan                 : SMA                         Pendidikan    :       SMA
                    Pekerjaan                   : IRT                           Pekerjaan       :       Swasta
                    Alamat                       : ds.Serangan Kec.Sukorejo Kab Ponorogo

2.      Data Kebidanan
a.       Alasan kunjungan
 
            Kunjungan pertama                     Kunjungan  ulang
b.      Keluhan utama : Bayi baru lahir tampak pucat, kebiru-biruan, gerakan lemah, pernafasan lemah dan merintih

3.      Data Biologis
a.       Prenatal
Ibu hamil anak yang pertama,HPHT pada tanggal 3 Juli 2017 ibu melakukan pemeriksaan ANC sebanyak 7x selama kehamilan, yakni 2x saat trimester I, 2x saat trimester II dan 3x saat trimester III. Selama hamil ibu mendapat terapi berupa tablet Fe dan asam folat. Keluhan selama hamil mual muntah di trimester 1 dan sering kencing saat trimester 3.Riwayat imunisasi TT ibu sudah T5.
b.      Natal
Ibu masuk dengan kala 1 fase aktif , ketuban belum pecah dengan UK 38 Minggu. Kala 1 berlangsung selama 6 jam. Air ketuban bercampur mekonium. dan kala 2 berlangsung 2 jam.Ibu melahirkan bayi dengan umur kehamilan …….. minggu, ditolong oleh Bidan secara Spontan pada tanggal 26 Maret 2017 jam 19.00 WIB, BBL: 2700 gram, PB : 48 cm.AS : 3-4
c.       Postnatal
            Bayi lahir dengan keadaan umum jelek, warna kulit kebiru-biruan, gerakan lemah, merintih dan pernafasan lemah. Telah dilakukan resusitasi, namun tidak berhasil dan akhirnya dirujuk.

2.      Riwayat psikososial
Kelahiran bayi ini sangat diharapkan keluarga dan sekarang keluarga sangat mengkhawatirkan keadaan bayinya.

3.      Kebutuhan dasar
a)      Pola nutrisi
Bayi belum mendapatkan nutrisi
b)      Pola eliminasi
BAB : belum BAB
BAK : belum BAK
c)   Pola aktivitas
      Gerak bayi lemah
d ) Personal Hygine
                  Bayi belum dimandikan

B.     Data Obyektif

1.      Penilaian Apgar Score
Tanda
0
1
2
1
2
Apperance
Biru pucat
Badan merah, Ekstremitas biru
Seluruh tubuh kemerahan
0
0
Pulse
Tidak ada
<100x/menit
>100x/menit
1
1
Grimace
Tidak ada
Menyeringai/merintih
Menangis kuat
0
1
Activitas
Tidak ada
Lemah
Gerakan aktif
1
1
Respiratory
Tidak ada
Lambat, tidak teratur
Teratur
1
1


Jumlah

3
4

2.      Pemeriksaan Antropometri
FOF           : 33 cm            FO       : 12 cm            Biparietal         : 9 cm
MOM        : 35 cm            MO      : 13,5 cm         Bi temporal     : 8 cm
SOB          : 32 cm            SOB    : 9,5 cm

BB             : 2700 gram
PB             : 48 cm
LILA         : 11 cm
LIDA        : 35 CM

3.      TTV
Suhu          : 36,5C
                    Nadi         : 90x/menit
        RR           : 30x/menit
4.      Pemeriksaan fisik
        Kepala     : rambut hitam, penyebaran rambut merata, tidak ada cepal hematom,    caput succedaneum,makrocepal, mikrocepal, hidrocepal dan anancepaly
        Muka       : bentuk oval, warna wajah kebiru-biruan
        Mata        : Simetris, konjungtiva merah muda, sclera putih, pupil isokor,reflek glabela lemah
        Telinga     : daun telinga telah terbentuk, tidak terdapat serumen, reflek moro lemah
        Hidung    : terdapat dua lubang hidung, tidak terdapat secret, septumnasi hidung lurus
        Mulut       : tidak terdapat labioskisis, tidak terdapat labiopalatoskisi, reflek sucking lemah, reflek rooting lemah, reflek ekstrusi lemah
        Leher       : tidak ada pembesaran pada vena jugularis, kelenjar limfe dan kelenjar tyroid
        Dada        : putting susu sudah terbentuk, pernafasan lemah
        Abodomen: tali pusat masih basah, tidak ada perdarahan pada tali pusat, tidak ada splenomegali dan hematomegali, bising usus normal, timpani
Ekstremitas atas: simetris, tidak ada polidagtil dan sidagtil, reflek graps lemah
Ekstremitas bawah:simetris, tidak ada polidagtil dan sidagtil, reflek babinski lemah
Genetalia         : labia mayora sudah menutupi labia minora, sudah terdapat lubang vagina, sudah terdapat lubang uretra
Anus                : tidak terdapat atresia ani, belum terdapat mekonium
Punggung        : tidak terdapat bercak mongol dan hemangioma


Kesimpulan     : BBL perempuan usia <1 Jam dengan asfiksia berat










II.                IDENTIFIKASI DIAGNOSA DAN MASALAH
Hari/tanggal          : 26 Maret 2017
Jam                        : 19.05 WIB
DATA DASAR
DIAGNOSA
S :
Ibu melahirkan anak pertamanya pada hari senin tanggal   26 maret 2017 jam 10.00 WIB Bayi baru lahir tampak pucat, kebiru-biruan, gerakan lemah, pernafasan lemah dan merintih

O :
1.      Penilaian Apgar Score
Tanda
0
1
2
1
2
Apperance
Biru pucat
Badan merah, Ekstremitas biru
Seluruh tubuh kemerahan
0
0
Pulse
Tidak ada
<100x/menit
>100x/menit
1
1
Grimace
Tidak ada
Menyeringai/merintih
Menangis kuat
0
1
Activitas
Tidak ada
Lemah
Gerakan aktif
1
1
Respiratory
Tidak ada
Lambat, tidak teratur
teratur
1
1


Jumlah

3
4


2.Pemeriksaan Antropometri
FOF           : 33 cm            FO       : 12 cm           
MOM        : 35 cm            MO      : 13,5 cm                    
SOB          : 31 cm            SOB    : 9,5 cm
Biperietal   : 9 cm
Bitemporal : 8 cm

BB             : 2700 gram
PB             : 48 cm
LILA         : 11 cm
LIDA        : 34 cm

3.TTV
Suhu          : 36,5C
                    Nadi         : 90x/menit
        RR           : 30x/menit

4. Pemeriksaan fisik
        Kepala     : rambut hitam, penyebaran rambut merata, tidak ada cepal hematom,    caput succedaneum,makrocepal, mikrocepal, hidrocepal dan anancepaly
        Muka       : bentuk oval, warna wajah kebiru-biruan
        Mata        : Simetris, konjungtiva merah muda, sclera putih, pupil isokor,reflek glabela lemah
        Telinga     : daun telinga telah terbentuk, tidak terdapat serumen, reflek moro lemah
        Hidung    : terdapat dua lubang hidung, tidak terdapat secret, septumnasi hidung lurus
        Mulut       : tidak terdapat labioskisis, tidak terdapat labiopalatoskisi, reflek sucking lemah, reflek rooting lemah, reflek ekstrusi lemah
        Leher       : tidak ada pembesaran pada vena jugularis, kelenjar limfe dan kelenjar tyroid
        Dada        : putting susu sudah terbentuk, pernafasan lemah
        Abodomen: tali pusat masih basah, tidak ada perdarahan pada tali pusat, tidak ada splenomegali dan hematomegali, bising usus normal, timpani
Ekstremitas atas: simetris, tidak ada polidagtil dan sidagtil, reflek graps lemah
Ekstremitas bawah:simetris, tidak ada polidagtil dan sidagtil, reflek babinski lemah
Genetalia         : labia mayora sudah menutupi labia minora, sudah terdapat lubang vagina, sudah terdapat lubang uretra
Anus                : tidak terdapat atresia ani, belum terdapat mekonium
Punggung        : tidak terdapat bercak mongol dan hemangioma



BBL perempuan usia <1 jam dengan asfiksia berat

III.             IDENTIFIKASI DIAGNOSA DAN MASALAH
Hari/tanggal          : Senin, 26 Maret 2017
Jam                        : 19.06 WIB

                  Masalah                 : bayi lahir tidak segera bernafas, warna kulit kebiru-biruan, gerakan bayi tidak aktif atau lemah, pernafasan lemah, denyut jantung <100x/menit dan bayi merintih

IV.             MENENTUKAN KEBUTUHAN YANG MEMERLUKAN TINDAKAN SEGERA,KOLABORASI DAN KONSULTASI
Hari/tanggal          : Senin,26 Maret 2017
Jam                        : 19.07 WIB

  Tindakan segera   :
1.      Membersihkan jalan nafas dengan delley
2.      Menghangatkan bayi
3.      Mengatur posisi bayi ekstensi
4.      Melakukan resusitasi
5.      Melakukan rangsangan taktil
6.      Melakukan persiapan rujukan
7.      Memasang O2 selama merujuk

V.                INTERVENSI
Hari/tanggal          : Senin 26 Maret 2017
Jam                        : 19.08 WIB
DIAGNOSA
TUJUAN&KRITERIA HASIL
INTERVENSI
IMPLEMENTASI
BBL Perempuan usia <1 Jam dengan asfiksia berat
Tujuan :
Setelah dilakukan asuhan kebidanan diharapkan tidak terjadi komplikasi pada bbl

Kriteria Hasil :
1. ASPGAR SCORE
  Appearance : 2
  Pulse           : 2
  Grimic        : 2
  Activity      : 2
  Respiration : 2
Total AS : 10

2..Pemeriksaan Antropometri
FOF            : 34  cm
MOM         : 35  cm
SOB           : 32  cm
FO              : 12 cm
MO            : 13,5 cm
SOB           : 9,5 cm
Biparietal     : 9 cm
Bitemporal   : 8 cm
                       
BB : 2500 - 4000 gram
PB : 45 - 55 cm
LILA : 11 cm
LIDA : 30 – 38 cm

TTV
Suhu           : 36,5 – 37,5◦C
Nadi            : 120-140x/menit
RR              : 40 - 80x/menit
Pemeriksaan fisik : Normal


1.Bina hubungan  saling percaya

2.beritahu keluarga hasil pemeriksaan bayinya

3.keringkan bayi segera setelah lahir

4.jaga bayi agar tetap hangat

5.hisap lendir dari mulut dan hidung bayi

6.lakukan rangsangan taktil

7.atur posisi bayi ekstensi

8.lakukan ventilasi 20x dengan tekanan 20 cm air selama 30 detik

9.ulangi ventilasi 20x dengan tekanan 20 cm air selama 30 detik

10. pasang oksigen dengan kecepatan 0,5 liter permenit

11. lakukan persiapan rujukan

12 beritahu keluarga bahwa bayinya harus segera dirujuk

13.pastikan kelengkapan rujukan telah disiapkan

14. pastikan Oksigen tetap terpasang selama perjalanan merujuk

15.beritahu hasil pemeriksaan bayi setelah sampai ditempat rujukan

1.mempermudah dalam memberikan asuhan
2. agar keluarga tahu keadaan bayinya

3. agar bayi tidak kedinginan

4.agar tidak terjadi hipotermi

5.agar tidak terjadi sumbatan jalan nafas

6.untuk merangsang pernafasan bayi
7.agar mempermudah dalam resusitasi
8.merangsang pernafasan bayi



9.merangsang kembali pernafasan bayi


10.agar bayi tidak kehilangan nafas


11.agar bayi segera mendapat pertolongan
12.agar keluarga tahu keadaan bayinya saat ini

13.agar tidak terdapat kelengkapan yang tertinggal
14.agar bayi tidak kehilangan nafas



15. agar petugas kesehatan tau keadaan bayi saat ini

VI.             IMPLEMENTASI
Hari/tanggal          : Senin 26 Maret 2017
Jam                        : 19.10 WIB
DIAGNOSA
IMPLEMENTASI
TTD
BBL perempuan usia <1 jam dengan asfiksia berat
1.Membina hubungan  saling percaya

2.Memberitahu keluarga hasil pemeriksaan bayinya,bahwa bayi mengalami asfiksia berat dengan AS 3-4

3.Mengeringkan bayi segera setelah lahir dengan menggunakan handuk yang bersih

4.Menjaga bayi agar tetap hangat dengan cara menyelimuti bayi dan memakaikan topi bayi

5.Menghisap  lender dengan menggunakan delley dari mulut bayi sebanyak 2x hisapan dilanjutkan menghisap hidung bayi sebanyak 2x hisapan

6.Melakukan rangsangan taktil dengan cara menyentil telapak kaki bayi dan mengusap-usap  punggung bayi secara perlahan

7.Mengatur posisi bayi ekstensi pada meja datar

8.Melakukan ventilasi 20x dengan tekanan 20 cm air selama 30 detik, dengan cara
1. persiapan alat
(ampubag, sungkup ukuran 0, oksigen, lampu sorot, meja datar, pengganjal setinggi 3 cm)
2. persiapan tempat
(bersih rapi nyaman,pencahayaan dan udara cukup, menutup tirai)
3.persiapan pasien
(atur posisi pasien dengan kepala ekstensi pada meja datar)
4.persiapan petugas
(memakai apd, cuci tangan)
5.prosedur
- pasangkan sungkup dengan ampubag dan oksigen
- hidupkan oksigen pastikan oksigen berfungsi dengan baik
- posisi petugas menghadap kepala bayi
- ambil ampubag dengan dengan menggunakan 2 jari tangan kanan dengan tekanan 20 cm air dan tangan kiri kita memegang sungkup
-mata petugas melihat dada, untuk mengetahui kembang kempis pernafasan
-lakukan ventilasi sebanyak 20 x selama 30 detik


9.Mengulangi ventilasi 20x dengan tekanan 20 cm air selama 30 detik apabila ventilasi yang pertama tidak berhasil
10. memasang oksigen dengan kecepatan 0,5 liter permenit apabila resusitasi tidak berhasil

11. Melakukan persiapan rujukan yaitu
Bidan yang mendampingi, Alat-alat yang akan dibutuhkan selama merujuk,Kendaraan untuk merujuk,Surat rujukan, Obat yang diperlukan, Keluarga yang mendampingi, Uang

12 Memberitahu keluarga bahwa bayinya harus segera dirujuk karena resusitasi tidak berhasil dan bayi harus segera mendapat penanganan yang lebih baik

13.Memastikan kelengkapan rujukan telah disiapkan agar tidak ada barang barang yang tertinggal saat merujuk

14. Memastikan Oksigen tetap terpasang selama perjalanan merujuk

15.Memberitahu hasil pemeriksaan bayi pada petugas kesehatan setelah sampai di tempat rujukan agar bayi segera mendapat penanganan








VII.          EVALUASI
Hari/tanggal          : Senin, 26 Maret 2017
Jam                        : 19.30 WIB
DIAGNOSA
EVALUASI
BBL perempuan usia <1 Jam dengan asfiksia berat
S : keluarga mengerti keadaan bayinya

O : keluarga kooperatif dan keluarga menyetujui jika bayi harus
     dirujuk

A : BBL perempuan usia <1 Jam dengan asfiksia berat

P : 1. Pastikan oksigen terpasang dengan baik selama merujuk
2.      Jaga bayi agar tetap hangat selama merujuk
3.      Observasi keadaan bayi selama merujuk
4.      Pastikan bayi segera mendapat penanganan di tempat rujukan

   













BAB IV
PEMBAHASAN

Asfiksia neonatorum adalah keadaan bayi tidak dapat segera bernafas secara spontan dan teratur setelah bayi lahir yang disebabkan oleh hipoksia janin rahim yang berhubungan dengan faktor-faktor yang timbul dalam kehamilan, persalinan atau segera setelah bayi lahir.
Tujuan umum pemeriksaan pada BBL adalah agar petugas kesehatan segera mengetahui keadaan bayi segera setelah lahir , sehingga bisa segera mendapat penanganan jika terdapat komplikasi komplikasi atau kelainan kelainan yang dialami bayi setelah lahir.
Salah satu komplikasi tersebut adalah asfiksia.asfiksia sendiri dibedakan menjadi 3 jenis yaitu asfiksia ringan, asfiksia sedang dan asfiksia berat. Pada bayi baru lahir yang mengalami asfiksia berat dengan ASmengalami asfiksia berat dengan AS 3-4 harus segera mendapatkan pertolongan agar bayi bisa mendapatkan penanganan sesuai waktunya dan tidak menimbulkan dampak lain yang lebih berbahaya.
Setelah dilakukan asuhan kebidanan pada bayi Ny”S” di BPM harapan mulya ponorogo.Bayi telah mendapat resusitasi segera setelah lahir. Dan setelah resusitasi tidak berhasil bayi segera dirujuk sesuai dengan prosedur rujukan yang benar, yaitu Bidan,Alat,Kendaraan,Surat,Obat, Keluarga, Uang telah disiapkan secara maksimal. Dan setelah sampai ditempat rujukan pun bidan telah memastikan bayi segera mendapat penanganan yang baik.
Dalam praktek yang dilakukan penulis melihat tidak ada kesenjangan antara teori dan praktek











BAB V
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Asfiksia neonatorum adalah keadaan bayi tidak dapat segera bernafas secara spontan dan teratur setelah bayi lahir yang disebabkan oleh hipoksia janin rahim yang berhubungan dengan faktor-faktor timbul dalam kehamilan, persalinan atau segera setelah bayi lahir, keadaan ini merupakan penyebab utama mortalitas dan morbilitas bagi bayi baru lahir.
Intervensi yang telah diberikan pada bayi Ny”S”adalah pendekatan terapeutik, pemeriksaan pada bayi setelah lahir, mengeringkan bayi, menjaga kehangatan bayi, menghisap lender bayi, melakukan resusitasi, memasang oksigen dan melakukan rujukan semuanya dilakukan sesuai dengan prosedur yang ada. Implementasinya pun dilakukan sesuai dengan intervensi yang telah dibuat sehingga pada evaluasi didapatkan seluruh prosedur telah dilakukan sesuai dengan pelaksanaanya.

B.     Saran
-          Bagi lahan praktek
Diharapkan hasil asuhan dapat dijadikan sebagai evaluasi untuk mengetahui kemampuan mahasiswanya dalam melakukan asuhan kebidanan
-          Bagi Institusi
Diharapkan hasil asuhan ini dapat digunakan sebagai evaluasi untuk mengetahu kemampuan mahasiswanya dalam melakukan asuhan kebidanan
-          Bagi Mahasiswa
Diharapkan mahasiswa mampu melakukan tindakan sesuai prosedur






DAFTAR PUSTAKA

-Manuaba, I. 1997.- Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana       
                               Untuk Pendidikan Bidan Kedokteran. Jakarta. EGC

- Purwadianto. A. 2000. Kedaruralan Medik. Bina Rupa Aksara Jakarta

- Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak Fakultas. 1998, Edisi 1. Kedokteran Jakarta. EGC

- Wong. L Donna. 2004. Keperawatan Pediatrik. Edisi 1. Kedokteran. Jakarta. EGC.